Bola-Bola Piala Dunia, Beberapa Diantaranya Dibuat di Indonesia

Infoasatu, Sport – Dikutip dari Historia, Piala Dunia selalu menghadirkan bola dengan desain dan teknologi berbeda. Khusus untuk Piala Dunia 2018 Rusia, Adidas selaku pemegang hak merilis bola Telstar 18. Angka 18 dicantumkan untuk menandai tahun Piala Dunia ini dihelat.

Dibuat oleh Forward Sports asal Sialkot, Pakistan yang berlisensi Adidas, bola Telstar 18 memiliki enam panel bertekstur yang tidak dijahit, melainkan dilem satu sama lain. Dengan warna putih-hitam, Telstar 18 berpola vintage dengan motif piksel untuk mendekripsikan era digital.

Dalam tiap bola Telstar 18 terdapat sebuah chip NFC (Near-Field Communication) yang menampilkan konten dan informasi mengenai bola tersebut dan bisa diakses via ponsel pintar. Teknologi ini menjadikan Telstar 18 bola pertama yang memiliki chip.

“Bola Telstar yang asli merupakan satu dari bola-bola ikonik sepanjang sejarah dan mengubah desain bola sepak seterusnya. Jadi mengembangkan Telstar 18 menyesuaikan model aslinya, menjadi tantangan tersendiri buat kami. Struktur panel baru dan penambahan chip NFC membawa inovasi dan desain bola ke level berikutnya,” ujar Direktur Perangkat Keras Bola Adidas Roland Rommler, dikutip laman FIFA, 9 November 2017.

Telstar 18 juga bakal di-upgrade seiring pergantian fase turnamen. Khusus untuk babak perdelapan final dan seterusnya, FIFA merilis bola Telstar Mechta. Mechta merupakan kata dalam bahasa Rusia yang berarti mimpi atau ambisi. Warna pola Telstar Mechta tak hanya berwarna hitam-putih, tapi lebih berwarna dengan tambahan warna merah yang terinspirasi dari warna kebesaran Rusia.

Bola Telstar 18 terinspirasi dari Telstar edisi pertama yang jadi bola resmi pertama Piala Dunia (Piala Dunia 1970). Bola itu menandai zaman baru bola sepak yang sebelumnya berkulit coklat dengan beragam pola. Sejak itu, desain dan teknologi bola untuk Piala Dunia terus berkembang. Berikut aneka bola itu dan kisah di baliknya:

Piala Dunia 1970: Telstar

Untuk kali pertama, laga-laga di turnamen ini disiarkan langsung via televisi. Sehubungan dengan itu, dibutuhkan bola yang lebih ramah mata pemirsa layar kaca. Bola berdesain 32 panel hitam-putih (12 pentagonal hitam, 20 heksagonal putih) karya Eigil Nielsen, pendiri Select Sport asal Glostrup, Denmark lalu jadi pilihan. Bola ini sebenarnya sudah eksis sejak 1962 dan digunakan pada Piala Eropa 1968 dengan nama Telstar Elast.

Namun, untuk Piala Dunia 1970 Meksiko FIFA menambahkan lisensi brand Adidas berwarna emas di bola berbahan kulit anti-air itu dan menamainya Telstar. Soal asal nama Telstar, laman FIFA 17 September 2011 menyebutkan, Nielsen terinspirasi dari Satelit Telstar (Television and Star) milik AT&T sebagai satelit komunikasi aktif pertama di dunia yang diluncurkan pada 10 Juli 1962.

Piala Dunia 1974: Telstar Durlast & Chile Durlast

Hampir tak ada perbedaan soal penggunaan bola untuk Piala Dunia 1974 dari Piala Dunia sebelumnya. Bolanya masih memakai bola berpanel 32 karya Nielsen. Namanya pun masih menggunakan Telstar, tapi dengan penambahan. Bola di Piala Dunia 1974 bernama Telstar Durlast. Penambahan itu tak lepas dari perbaikan yang terjadi pada bahan bola, yang di-upgrade dengan lapisan poliuretana. Lapisan ini berfungsi membuat bola lebih tahan lama dan anti-air. Selain itu, perubahan di bola ini terletak pada logo Adidas yang warnanya diganti jadi hitam (sebelumnya emas). Sementara bola keduanya adalah Chile Durlast yang relatif serupa, hanya berbeda warna semua panelnya putih, bukan putih-hitam.

Baca Juga :  Sejarah Trofi Piala Dunia, Pernah Dua Kali Dicuri dan Ditemukan Seekor Anjing

Piala Dunia 1978: Tango

Sejak mengantongi hak paten bola resmi Piala Dunia pada 1972, mulai Piala Dunia 1974 Adidas mengatur sendiri produksi bolanya. “Dan semenjak itu, mereka mendesain sendiri bola khususnya dan untuk edisi 1978, bolanya dinamai Tango dengan 20 panel dan tiga garis bersambung yang membentuk 12 lingkaran,” tulis Novy Kapadia dalam The Football Fanatic’s Essential Guide Part 2: 1978 to 2010.

Nama Tango diambil karena terinspirasi tarian tradisional Tango dari Argentina, negara tuan rumah Piala Dunia 1978. Bola bernama lengkap Tango Durlast ini lalu populer hingga dua dekade berikutnya. Namun soal bahan, Tango Durlast tak beda dari pendahulunya: kulit asli dengan lapisan anti-air. Tango Durlast jadi bola pertama Adidas dengan trademark, bola-bola sebelumnya hanya diberi cap sponsor Piala Dunia.

Piala Dunia 1982: Tango España

Tingginya popularitas Tango membuat Adidas mempertahankannya untuk Piala Dunia 1982 Spanyol. Diberi nama Tango España, warna bola masih putih-hitam dengan 20 panel plus tiga garis hitam saling berkaitan membentuk 12 lingkaran. Perubahan pada bola ini hanyalah penggunaan karet untuk jahitan agar lebih tahan air. Bola ini jadi bola terakhir yang menggunakan bahan kulit asli.

Piala Dunia 1986: Azteca

Peradaban Aztec punya pengaruh besar di Amerika Tengah, terutama di Meksiko. Oleh karenanya, nama besar Aztec dipakai untuk bola resmi Piala Dunia 1986 di Negeri Sombrero itu: Adidas Azteca. Meksi masih dibuat dengan jahitan tangan dan pola desainnya masih sama dengan bola sebelumnya, Azteca menggunakan motif mural Aztec. “Trigons-nya (tiga garisnya) berhias simbol-simbol mural Aztec karya Rebecca Martínez,” ungkap Jonathan Wilson dkk dalam The Blizzard: The Football Quarterly.

Bola ini jadi bola Piala Dunia pertama yang 100 persen menggunakan bahan sintetis. Tujuannya, untuk menyesuaikan dengan kondisi Meksiko yang basah dan berada di dataran tinggi. Menariknya, bola ini buatan Indonesia. Dilansir Tabloid BOLA terbitan nomor 314, Maret 1990, bola ini diproduksi PT Borsumij Wehry Indonesia (BWI).

Piala Dunia 1990: Etrusco Unico

Seperti Meksiko empat tahun sebelumnya, Italia sebagai tuan rumah Piala Dunia 1990 juga terinspirasi dari peradaban kuno yang mereka banggakan. Oleh karena itu, bola resmi Piala Dunia 1990 dinamai Etrusco Unico, merujuk pada peradaban Etruska yang eksis di abad 9-2 SM, lengkap dengan simbol tiga kepala Singa Etruska di ke-20 motif panel hitamnya.

Baca Juga :  GSBC 1 Wakili Indonesia di Turnamen Basket di AS

Secara kasat mata, Etruska mirip dengan Adidas Aztec. Bahannya juga 100 persen sintetis. Namun, menurut arsip FIFA yang dirilis Divisi Komunikasi dan Humas pada 22 Juli 2010, “Off the Pitch: Statistical Kit 6”, Etrusco Unico jadi bola pertama yang menggunakan lapisan dalam poliuretana dari bahan busa. Seperti halnya bola Azteca, bola ini juga diproduksi di Indonesia selain di Pakistan.

Piala Dunia 1994: Questra

FIFA dan Adidas membawa misi khusus lewat motif bintang-bintang di bola resmi Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. “FIFA berharap bisa menaklukkan Amerika, sebuah planet baru bagi sepakbola,” tulis Sheridan Bird dalam “Classic Footballs”, dimuat di buku The Blizzard: The Football Quarterly Jilid Enam. Hingga menjadi tuan rumah Piala Dunia, Negeri Paman Sam lebih populer dengan American Football, bisbol, dan bola basket NBA-nya.

Misi itu pula yang mendasari Adidas menamai bolanya Questra, berarti perjalanan menuju bintang-bintang. Motif bintang pada bola Questra juga berhubungan dengan tema luar angkasa karena dibuat untuk memperingati 25 tahun misi Apollo 11. “Secara visual, Questra memperlihatkan pola klasik trigon Tango dengan dihiasi simbol penggambaran lubang hitam, planet-planet dan bintang-bintang,” tulis Sheridan Bird.

Questra masih menggunakan pola panel sama dengan bola sebelumnya. Namun, Questra dibuat dengan tambahan lima jenis lapisan poliuretana yang lebih lembut.

Piala Dunia 1998: Tricolore

Desain bola Tango masih dipakai untuk bola resmi Piala Dunia 1998 Prancis. Bedanya, bola di Prancis berhias tiga warna, Biru-Putih-Merah, berbentuk ilustrasi ayam jago. Adidas menamakan bola ini Tricolore (Prancis: tiga warna). Bola ini merupakan bola multi-warna pertama.

Menilik laman FIFA 24 Juni 2006, Tricolore dibuat dengan lapisan busa sintaksis untuk membuat bola lebih awet. Tricolore juga dibuat di luar Eropa. Selain dibuat di Maroko, Tricolore juga dibuat di Indonesia oleh Sinjaraga Santika Sport (SSS) asal Majalengka, Jawa Barat.

Piala Dunia 2002: Fevernova

Memasuki milenium ketiga, Adidas tak lagi memakai motif Tango pada bolanya. Meski masih dengan 32 panel, bola Piala Dunia 2002 dibuat dengan motif bernuansa budaya Asia Timur mengingat Korea Selatan dan Jepang merupakan tuan rumahnya. Motif bolanya menggambarkan shuriken atau pisau segitiga berwarna abu-abu, merah, dan emas di masing-masing empat sisinya.

Bola ini dinamai Fevernova untuk menggambarkan demam (fever) Piala Dunia empat tahun sekali dan bintang bernama Nova yang bersinar dan redup dalam waktu singkat. Produksinya dilakukan oleh pabrikan Maroko dan Indonesia (SSS).

Para pakar Adidas menyebut Fevernova sebagai bola paling akurat karena dibuat dengan lapisan khusus yang diisi balon gas mikro di dalam busa sintaktiknya. Namun, beberapa pemain yang mencobanya tak sependapat. “Pantulan bolanya sungguh gila,” ujar kiper Italia Gianluigi Buffon, dilansir CBC, 31 Mei 2002. “Bola terburuk yang pernah saya mainkan,” timpal pemain Slovenia Zlatko Zahovic di laman yang sama.

Baca Juga :  Tim Sepak Bola Teman Rachmat Kembali Imbang Lawan Crew 02 FC

Piala Dunia 2006: +Teamgeist

Inovasi dalam pembuatan bola resmi Piala Dunia yang dilakukan Adidas menghasilkan bola +Teamgeist untuk Piala Dunia 2006 Jerman. Bersama tim Molten Corporation, Adidas mendesain bola baru dengan 14 panel melengkung bermotif hitam. Masing-masing panel dilem, bukan dijahit. Bola ini dinamai Teamgeist, berarti semangat tim. Tambahan simbol + digunakan untuk menggantikan trademark yang lazim di bola-bola sebelumnya.

Uniknya, bola ini dibuat khusus per pertandingan dengan menyertakan cetakan nama dua tim yang bertarung, tanggal laga, dan venue pertandingan. Untuk laga final, bola yang digunakan bernama +Teamgeist Berlin yang motif pada panel-panelnya berwarna emas.

Beberapa pemain bintang yang di-endorse Adidas mengaku puas dengan bola yang  sempat diriset Universitas Loughborough, Leicestershire, Inggris itu. Namun, beberapa kiper justru mengkritik +Teamgeist. “Efek hentakan (tendangan) membuat bolanya terbang tanpa bisa diprediksi dengan arah yang bisa berubah atau bahkan zigzag,” ujar RD Mehta dalam tulisannya di buku Sport Aerodynamics, “Sports Ball Aerodynamics”.

Piala Dunia 2010: Jabulani

Seperti +Teamgeist, bola resmi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan (Afsel) juga diriset tim teknologi olahraga Universitas Loughborough, Inggris. Dilansir laman resminya, lboro.ac.uk, 4 Desember 2009, bola Jabulani dibuat dengan delapan panel bulat tiga dimensi yang juga dilem, bukan dijahit. Panel-panel itu dihias warna merah, kuning, hijau sebagai penggambaran warna bendera Afsel.

Jabulani disebut-sebut sebagai bola paling akurat karena menggunakan teknologi “Grip ‘n’ Groove” yang meningkatkan efek aerodinamikanya. Jabulani juga dilapisi poliuretana termoplastik dan etilena vinil asetat.

Adidas menamakan bola ini Jabulani, diambil dari kata dalam bahasa Zulu yang berarti merayakan. Untuk bola final, Adidas membuat bola khusus dengan motif emas bernama Jo’bulani, gabungan kata Jabulani dan Johannesburg sebagai kota penyelenggara final.

Piala Dunia 2014: Brazuca

Di Piala Dunia Brasil inilah Adidas untuk pertamakalinya menciptakan bola resmi Piala Dunia yang desain dan namanya ditentukan melalui pemungutan suara publik. Brazuca, berarti saudara sebangsa, akhirnya dijadikan sebagai nama bola yang dirilis pada 3 Desember 2013 di Rio de Janeiro, Brasil. Nama itu diambil dari hasil voting yang dipilih masyarakat Brasil. Laman resmi Adidas 6 Desember 2013 mengungkapkan, sebelumnya panitia lokal via beragam media sosial memberi opsi tiga nama: Brazuca, Bossa Nova, dan Carnavalesca. Dari lebih satu juta suara, 77,8 persen memilih nama Brazuca.

Bola bermotif garis-garis berlekuk bak Sungai Amazon ini memiliki warna  kombinasi hijau, biru, jingga, dan hitam. Khusus partai final, digunakan Brazuca Final Rio yang motif panelnya ditambahi warna emas.

Brazuca dibuat di Pakistan dan Indonesia (SSS). Bola yang terdiri dari enam panel berlapis poliuretana dengan lapisan dalam yang dikembangkan dari bola Adidas Tango 12 ini tak lagi mengalami masalah aerodinamis seperti Jabulani. (*)

Facebook Comments

Idris Muhammad

referensi cerdas