Hastag Kalahkan Capres Pelanggar HAM, Aktivis dan Keluarga Korban Penculikan 98 Tolak Capres 02

Infoasatu.com, Makassar – Tepat 21 tahun yang lalu, terjadi penculikan beberapa aktivis mahasiswa yang kemudian disebut sebagai insiden penghilangan dan penculikan paksa.

Menurut laporan tim ad hoc Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Penghilangan Orang Secara Paksa (PPOSP) periode 1997-1998, Tim Mawar adalah yang paling bertanggungjawab atas peristiwa penculikan puluhan aktivis ini.

Tim Mawar merupakan sebuah tim yang dibentuk dibawah Grup IV Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berdasar perintah langsung dan tertulis dari Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto.

Dugaan terhadap Prabowo Subianto bahwa ia adalah pelaku pelanggaran HAM 1998 menjadi dasar antipati keluarga korban kepada Prabowo. Mereka bersama-sama menyerukan larangan serta ajakan untuk mengalahkan Prabowo pada pilpres mendatang dengan kaos bertuliskan #KalahkanCapresPelanggarHAM.

Keluarga korban penculikan tahun 1998 juga menyatakan mendukung Jokowi – Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden mendatang.

“Saya berharap kepada adek-adek, saya minta supaya adek-adek pilih Jokowi jangan siapa-siapa. Jangan monster itu yang dipilih,” kata Damaris Hutabarat orang tua dari Ucok Munandar Siahaan korban penculikan 1998, di Hotel Grand Cemara, Rabu (13/03/2019).

Ayah salah seorang aktivis korban penculikan, Utomo Rahadjo, menegaskan hal serupa. Dia mengajak seluruh aktivis dan keluarga korban tidak memilih capres pelanggar HAM.

“Saya adalah ayah dari Petrus Bimo. Untuk ke depan, saya memakai kaus, tulisannya Anda bisa baca sendiri, ‘Kalahkan Capres Pelanggar HAM’. Marilah kita memilih capres yang bukan pelanggar ham,” sebut Utomo.

Utomo menyatakan dukungannya untuk capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Dia berharap, pada periode kedua, Jokowi bisa menuntaskan kasus penculikan aktivis.

“Harapan saya kepada pemerintah pada pemilu yang akan datang, yang jelas kami adalah keluarga korban yang konsisten mendukung Jokowi untuk periode yang kedua. Dan harapan kami kepada pemerintahan Jokowi, mudah-mudahan memberikan harapan kepada kami yang hadir disini keluarga korban telah menunggu 21 tahun,” lanjutnya.

Baca Juga :  Jelang Pemilu, MUI: Memilih Pemimpin Sesuai dengan Hati Nurani

Budiarti, ibunda dari Leonardus Nugroho Iskandar juga menyerukan hal yang sama.

“Kebetulan ada pemilihan Presiden karena pak Jokowi Wali Kota Surakarta dan saya masyarakat Solo, saya aktif ketemu dan merasakan kasih sayang (Jokowi). Saya berharap jangan sampe dalam pemiluhan presiden yang memimpin (pelaku) pelangaran HAM karena sebelum jadi presiden saja sudah semena-mena pada rakyat kecil seperti kepada anak saya. Dan saya berdoa jangan sampe Pak Prabowo itu jadi pemimpin di negara ini,” tutur Budiarti.

Sedangkan salah seorang aktivis yang mengaku turut menjadi korban penculikan, Mugiyanto yang ikut hadir dalam peringatan 21 tahun itu juhga bertekad kalahkan capres nomor 2.

“Karena kita semua tahu bahwa salah satu capres RI, capres nomor 2, adalah orang yang secara langsung terkait dengan peristiwa yang kami semua alami,” kata Mugiyanto.

“Waktu itu, Prabowo Subianto adalah Letjen Koppasus, dan beliau kemudian diberhentikan secara tidak hormat karena keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis tahun 1997-1998,” imbuhnya.

Mugiyanto menyebut, berdasarkan dokumen-dokumen yang ada, Kopassus merupakan pelaku penculikan para aktivis. Dia mengaku tidak bisa membayangkan jika pelaku penculikan menjadi Presiden RI.

“Posisi Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia adalah bahwa kami tak ingin, kami tidak, kami tak punya bayangan bahwa pelaku pelanggaran HAM, pelaku penculikan yang belum mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum, itu dipilih menjadi presiden, kami tidak menginginkan itu terjadi,” tegas Mugiyanto.

“Tagline kami, dengan undangan yang kami kirimkan adalah ’21 Tahun Penculikan dan Kalahkan Capres Pelanggar HAM’. Jadi itu tagline kami,” lanjutnya.

Facebook Comments