Pemerintahan

Nyaris Meraih PAI AWARD NASIONAL TAHUN 2023 Kategori Peningkatan Literasi AL-Qur’an, Delegasi PAI AWARD Sulsel tembus 10 besar Nasional

Infoasatu.com,Makassar--Penyuluhan Agama Islam Award 2023 saat ini telah sampai pada puncak kegiatannya. Agenda ini merupakan malam puncak yang ditunggu-tunggu oleh seluruh Kementrian Agama yang tersebar di seluruh Wilayah Indonesia utamanya para nominator yang terpilih.

Kegiatan tersebut diselenggarakan EL Hotel Jakarta sekaligus via Streaming Youtube Bimas Islam TV. Rabu, 9 Agustus 2023. Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini adalah, Menteri Agama RI H, H. Yaqut Cholil Qoumas, Para Bupati dan Wali Kota yang tersebar di seluruh Indonesia, kakanwil dan kakan Kemenag di seluruh Indonesia

Dalam semarak puncak kegiatan PAI Award 2023 ini secara resmi diumumkan para nominator yang mejadi pemenang dari 7 kategori yang ada. Yakni, Peningkatan Literasi AL-Qur’an, Pendampingan Kelompok Rentan, Kesehatan Masyarakat, Pemberdayaan Ekonomi Umat, Penegakan Hukum, Pelestarian Lingkungan dan Metode Penyuluh Baru

Srikandi asal Sulawesi Selatan Sidrah nyaris merebut juara pertama di Kategori Peningkatan Literasi AL-Qur’an. Hanya terpaut kurang 1 poin dari sang pemenang Ermi Daini asal Nagroeh Aceh Darussalam. Berdasarkan Fost nilai PAI Award 2023, Ermi Daini mendapat torehan nilai 77,05 sementara Sidrah 76,84. Hal demikian merupakan selisih begitu yang begitu tipis, yang menyebabkan Srikandi Sulawesi Selatan ini berada pada posisi runner-up

Sementara dua Srikandi asal Sulawesi Selatan lainnya kokoh dengan menempati posisi 10 besar dalam kategori Metode Penyuluhan Baru dan Kesehatan Masyarakat. Yakni Fatma Utami (Metode Penyuluhan Baru) berada pada urutan ke-5 dan Suriyani (Kesehatan Masyarakat) berada pada urutan ke-8.

Adapun ketujuh kategori tersebut masing-masing dimenangkan oleh, Ahmad Daviq Zain asal Jawa Timur (Kesehatan Masyarakat), Nur Kholifah asal Jawa Timur ( Metode Penyuluh Baru), Shohibul Izar asal Jawa Timur (Pelestarian Lingkungan), Munawar asal Aceh (Pendampingan Kelompok Rentan), Ahmad Nawawi Abdurauf asal Kalimantan Selatan (Penegakan Hukum) dan Ermi Daini asal Aceh ( Peningkatan Literasi Al-Qur’an) dan Muhammad Rosyid asal Jawa Tengah (Pemberdayaan Ekonomi Umat).

Baca Juga :  DWP Makassar Studi Tiru ke Jawa Timur,Indira Harap Perkuat Kerja Sama Antar Kedua Kota

H. Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI dalam kesempatannya sangat mengapresiasi kegiatan PAI Award 2023 ini, dirinya juga sangat senang sebab kegiatan ini di hadiri sejumlah Kepala Daerah dan Walikota serta kakanwil dan kakan Kemenag di seluruh Indonesia

“saya senang sebab baru pertama kali kegiatan kami dihadiri beberapa kepala dearah dan walikota dan kakanwil dan kakan Kemenag di seluruh Indonesia.” Ucapnya

Dirinya juga mengapresiasi kegiatan yang diperuntukkan oleh seluruh penyuluh agama yang tersebar di Indonesia, sebab dirinya mengatakan jika penyuluh agama memiliki peranan penting sebagai garda terdepan bagi masyarakat dalam menjaga kerukunan umat antar agama serta memberi pemahaman yang tepat bagi masyarakat

“Penyuluh adalah garda terdepan tidak hanya sebagai layanan Kementrian Agama pada masyarakat tapui dalam menjaga NKRI. Sebab mereka tidak hanya menjalankan tugasnya di satu aspek saja melainkan berbagai macam aspek.” Tuturnya

Dirinya juga menambahkan jika para penyuluh harus tetap mengedukasi kepada masyarakat tentang 5 hak. Yaitu hak beragama, hak untuk memiliki harta, hak untuk jaga akal, hak jiwa dan hak kehormatan. Sebab dirinya mengatakan penyuluh agama adalah soft power bangsa Indonesia untuk menjaga perabadan agar tetap tentram dan damai

“Para penyuluh harus tetap memberikan pemahaman seputar 5 prinsip penting yakni hak untuk beragama, hak untuk memiliki harta, jaga akal, jiwa dan kehormatan. Kalau Kementrian Pertahanan memiliki alutsista, Kementrian Agama di bekali penyuluh agama sebagai soft power untuk menjaga keutuhan bangsa dan sangat menetukan arah Indonesia.” Tambahnya

H. Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI berpesan agar penguatan moderasi agama menjadi instrumen terdepan untuk di sadari, sebab dirinya mengatakan menjelang tahun-tahun politik tak jarang politisasi agama acap kali terjadi dan sangat riskan memecah belah umat beragama atau warga Indonesia

Baca Juga :  Sekcam Bontoala Ajak Warga Menjaga Persatuan

“tahun ini riskan agama di seret-seret menjadi alat politik dalam menyambut tahun politik, sebab hal demikian pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia. Jika terus dibiarkan akan memicu konflik antar beragama dan potensi merusak peradaban.” Tegasnya

Facebook Comments