‘Penjahat’ Demokrasi: dari Kacamata Noam Chomsky

Infoasatu.com, Opini – Mengutip salah satu ungkapan Media di Amerika, “bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang konstelasi di dunia kita hidup jawabannya sederhana, baca Noam Chomsky (New Statement), ungkapan ini mungkin sepintas ‘terlihat simplifikasi’ tapi jika kita mendalami apa yang menjadi problem global yang sangat serius dan kompleks, justru mungkin akan bisa memutar balikkan penilaian kita selama ini. Sehingga harus dikatakan pada konteks tertentu begitu sangat krusial apa yang menjadi landasan pembacaan fakta masalah politik global yang dianalisis seorang pemikir besar bernama Noam Chomsky.

Paparannya begitu akurat dan sangat logis berdasarkan data yang tidak diragukan validitasnya selama perjalanan karir penelitian akademiknya yang sangat fokus pada kebijakan infasi politik luar negeri Pemerintahan Amerika dan Zionisme Israel. Sebagai Profesor emeritus linguistik dan filsafat, Noam Chomsky dikenal luas karena prestasinya yang sangat ahli dan begitu revolusioner pada bidang linguistik moderen, beliau hingga saat ini menetap di Cambridge Massachusetts Amerika Serikat.

Kehebohan terbunuhnya seorang Jenderal Iran yang paling dikagumi abad ini, pastinya mengispirasi dan memberikan energi baru yang begitu dasyat bagi seluruh pejuang keadilan yang melawan arogansi imperialisme Amerika. Jenderal Qassem Soleimani telah menjadi monumen perjuangan dan sekaligus sebagai pemicu yang menghentakkan kesadaran kritis di ruang global, yang selama ini mungkin tertutupi citra semu manipulatif akibat propaganda kebohongan penegakan tatanan demokrasi dunia yang diprakarsai Amerika.

Bangkitnya kesadaran cerdas itu dapat disaksikan mulai dari respon dalam negeri kita misalnya, seperti sikap Nahdlatul Ulama (NU) yang secara resmi mengutuk tindakan Pemerintah Amerika tersebut, pernyataan sikap Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, hingga Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez yang melakukan konferensi persnya setelah kejadian itu dan sekaligus menyatakan rasa simpatinya bahwa, “justru dengan peristiwa ini dunia akan melahirkan jutaan pejuang seperti Qassem Soleimani”.

Itulah respon dialektika realitas tentang bagaimana bobrok dan irasionalnya Pemerintah Amerika dan Sekutunya tersebut dalam menjalankan segala langkah kebijakan hegemoni politiknya. Hal itu kalau direview kembali ke belakang sangat jelas bagaimana para pakar sosio-politik dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II telah memberikan gambaran betapa buruknya interaksi yang menjadi pola pergaulan dunia akibat kebijakan-kebijakan Amerika dan Sekutunya. Dalam hal ini begitu sangat jelas jawabannya yang diperkuat oleh keseriusan anailsa salah satu tokoh cendikiawan asal Amerika sendiri Noam Chomsky, mengamati dengan totalitas kualitas akademiknya, begitu teliti dan sangat mendalam mengurai apa yang menjadi efek kerusakan dari skandal yang diakibatkan kebijakan Gedung Putih [tentunya di sini bersama Zionisme Israel] sebagai partner dalam perjalanan upaya hegemoni mereka.

Penjahat Demokrasi

Jargon menegakkan tatanan demokrasi dunia adalah narasi yang paling sering digunakan, karena untuk sementara waktu bagitu efektif, yang sekian lamanya telah mengecoh (memanipulasi) mata dunia dalam membangun kejahatan dominasi mereka. Atas nama cita-cita tatanan demokratisasi digaunkan seperti seakan-akan “slogan dari Surga”, akan tetapi sejatinya istilah jargon demokrasi adalah “mantra yang sangat mematikan” ketika ini digunakan negara imperialis seperti Amerika untuk mencaplok kekayaan sumber daya alam setiap negara yang pemerintahannya dianggap membangkang kepada kepentingan Gedung Putih.

Datanya begitu gamblang dipaparkan Noam Chomsky dalam karya-karyanya yang telah dipublikasikan beberapa tahun terakhir. Fakta ini terlihat misalnya, bagaimana sejarah perjalanan hegemoni itu menguasai dan mengoyak setiap jantung pemerintahan mulai dari Amerika latin, benua Afrika, Timur Tengah, hingga Asia, tanpa terkecuali Indonesia juga telah menjadi korbannya [kudeta tahun 1965] sehingga dampak yang ditimbulkan telah tercatat dengan darah, air mata, dan melayangnya nyawa jutaan penduduk hampir di seluruh sudut bumi ini, semenjak skenario menguasai dunia yang dijalankan Amerika setelah pasca Perang Dunia II hingga hari ini [Lihat, Who Rules the World?, LLC, USA, Chomsky 2016].

Saya sempat berimajinasi sedikit dalam menatap ini, mungkin kapan-kapan di satu kesempatan mengajak Jurgen Habermas untuk berdiskusi atau sekaligus berdebat dengan Noam Chomsky dalam rangka pemetaan alternatif gagasan penyelesaian soal diskursus global, dengan tema arah demokratisasi di era perjalanan panjang skenario hegemoni sumber daya alam yang begitu sangat tidak adil dan telah menyengsarakan umat manusia di seluruh belahan dunia. Karena ironisnya skenario konflik (peperangan) itulah yang sering menjadi pilihan langkah hegemoni Amerika dalam melakukan penaklukannya, yang menurut Chomsky kalau ini tidak dihentikan dampak langsung yang harus dibayar adalah bertahap menuju kerusakan lingkungan ekstrim di satu sisi, dan ancaman perang nuklir di sisi lainnya yang setiap saat akan sangat berpotensi menghancurkan dunia tempat kita tinggal bersama.

Harus saya ungkapkan bahwa pemikir besar sosialis “Teori Kritis” generasi penerus Mazhab Frankfurt (Frankfurter Schule) ini adalah salah satu dari beberapa tokoh sosiolog paling dikagumi prestasinya. Tapi Habermas sekarang agak berbeda dengan Habermas muda, yang menurut penulis sekarang sepertinya kehilangan energi daya dorong konstruksi pemikiran kritik sosialismenya untuk lebih lanjut dikembangkan dalam “mengkritisi kebrutalan” politisasi hegemoni kapitalisme. Itu bukan tanpa alasan karena publikasi terakhir beliau terlalu bertumpu dan menaruh “kepercayaan penuh” pada optimisme diskursus “wacana demokrasi”, dan menurutnya akan berjalan ke arah proses-proses demokratisasi yang lebih baik di setiap negara dalam tatanan masyarakat dunia [Lihat, Wawancara F. Budi Hardiman dengan Jurgen Habermas, buku Demokrasi Deliberatif, hal 221-229, Kanisius 2006].

Pertanyaannya sederhananya adalah, bagaimana masa depan tatanan demokrasi dunia diaktualisaikan menuju keadilan, kalau disaat yang sama hegemoni ketidakadilan global itu terus menjerat seakan-akan tanpa ampun, yang tidak kalah antagonisnya dengan totalitarian atau gerakan fasisme saat masa terjadinya dan setelah Perang Dunia II ?.

Ironi manipulasi spirit demokrasi sebenarnya adalah gambaran suasana kebatinan proses politik domestik di Amerika itu sendiri. Dapat dipastikan dengan begitu mudahnya untuk kita simpulkan bersama, tentang bagaimana sesungguhnya karakter kebijakan luar negerinya yang telah menimbulkan berbagai malapetaka, dan sangat mengkhianati nilai-nilai luhur demokrasi untuk tegaknnya cita-cita kemanusiaan dan keadilan dalam perjalanan sejarah peradaban dunia.

Berbagai hasil investigasi dan penelitian perjalanan praktek politik-demokrasi yang dilakukan di negara Amerika sendiri, kesimpulannya bahwa ada semacam “racun” mematikan yakni “Dominasi Elit”; bagaimana suara dan aspirasi masyarakat kebanyakan tidak dapat berbuat banyak dengan apa yang menjadi cita-cita bersama, untuk mendorong lahirnya kebijakan pemerintah yang berpihak pada mereka. Bagaimana penelitian lainnya menyatakan juga, sebagian besar penduduk yang tingkat pendapatannya rendah berdasarkan skala kesejahteraan, secara efektif disingkirkan dari sistem dan keberpihakan politik, artikulasinya sikap atau hajat mereka sudah menjadi rahasia umum di sana, sering disingkirkan dari dewan perwakilan mereka sendiri karena berbenturan dengan hajat “Dominasi Elit” dengan memanipulasi norma yang diatur dalam konstitusi negara Amerika.

Dalam kutipan analisis pada pemilu 2014 lalu, bahwa jejak pendapat yang dilakukan kepada publik Amerika sehubungan proses-proses pemilihan umum secara langsung dan tak langsung, menegaskan sebagian besar dari mereka jera dan tidak yakin untuk menaruh harapan pada kedua Partai yang ada di Amerika, yaitu Partai Republik dan Demokrat. Dan kesimpulannya mayoritas publik Amerika telah frustasi dengan situasi buntunya penyaluran aspirasi pada sistem demokrasi mereka, dan catatan pentingnya di sini mereka sangat meyakini bahwa hampir seluruh kebijakan pemerintahan Amerika hanya dijalankan oleh “Segelintir Elit” yang sama sekali terpisah dengan mereka dalam kabut gelap yang begitu kelam.

Apa yang menjadi harapan besar publik Amerika selama ini hanya seperti sekedar impian belaka, misalnya saja bagaimana penyelesaian problem kemerosotan (ketimpangan) ekonomi karena tidak terkendalinya kebijakan yang berpihak pada mereka karena terhalang tembok kokoh yang menjulang. Ini begitu jelas bahwa sistem demokrasi mereka adalah semu, karena kedua Partai tersebut hanya bekerja untuk menjalankan agenda Korporasi multinasional milik Para Elit, yang mendikte dan mengontrol seluruh kebijakan apapun, serta siapapun yang menjadi pemenang dalam setiap pelaksanaan proses Pemilu, ringkasnya serba dikendalikan oleh ‘keuangan yang maha esa’, karena itulah realita ideologi politik Gedung Putih [Gilens, LM, & Benjamin, 2014, “Testing Theories of American Politics: Interest Group, and Averange Citizens”].

Sebagai putra dan putri yang telah ditakdirkan Tuhan dilahirkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita sepatutnya bersyukur dengan cara menterjemahkan spirit dan paradigma perjuangan para pendiri bangsa ini untuk terus menegakkan kedaulatan dan merawat Ideologi Konstitusi Negara. Yang salah satu substansinya adalah muatan komitmen menentang keras segala bentuk penjajahan di muka bumi, sebagaimana termaktub di dalam UUD 1945. Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya walaupun tidak tumbuh berkembang, paling tidak bahwa spirit cita-cita penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang digagas Presiden Pertama kita Ir. Sukarno di Bandung saat itu, adalah sebuah bukti nyata komitmen besar dan juga sekaligus cerminan kultur identitas bangsa, sebagai cara kita bersikap terhadap nilai cita-cita perjuangan untuk tegaknya martabat kemanusiaan dan keadilan yang merupakan amanah berkeTuhanan.

Pada konteks era globalisasi hari ini tentunya dibutuhkan kecerdasan dalam memahami etika keadilan pergaulan antar negara-negara di dunia yang seharusnya tidak akan boleh melemah sedikitpun, hal tersebut wajib untuk selalu diperjuangkan. Mengingat agar kita tidak gagal paham, misalnya karena sentimen sektarian agama yang juga telah masif belakangan ini menebar teror kedunguannya yang merongrong ideologi negara. Sejatinya kita adalah bangsa yang besar dan terhormat, juga sebagaimana amanah tanggung jawab sebagai warga negara dan agama itu telah begitu jelasnya diletakkan tepat di hadapan akal sehat kita.

[Dengan segala hormat, tulisan sederhana ini didedikasikan untuk Syahid Jenderal Qassem Soleimani]

Oleh: Fajar Ahmad Huseini
(Ketua Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulsel)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.